NOORSYAIDAH tetap tabah menjalani hidup. Salat lima waktu tak sekali pun ditinggalkan. Awalnya, masih bisa salat dengan berdiri. Namun, posisi itu membuat perutnya nyeri. Noor lalu melakukannya dengan duduk. Tiga bantal ditumpuk di depannya untuk menahan kepalanya saat sujud agar kawat-kawat yang keluar dari perutnya tidak tertekan
Sejak kecil Noor telah dididik oleh orangtuanya untuk selalu ingat kepada-Nya. Karena itu, dia mencoba untuk tetap tabah dan meyakini bahwa penyakit aneh yang dideritanya ini adalah atas kehendak Allah.
Noor salat dengan posisi duduk, tetap menggunakan mukena (pakaian salat perempuan). Dia pernah kembali mencoba salat dengan posisi berdiri, tetapi hal itu membuatnya kesulitan.
"Ini adalah ujian dari Allah SWT, bagaimana saya harus diuji apakah sanggup untuk menjalaninya atau tidak. Alhamdulillah, khususnya persoalan salat yang harus mengeluarkan gerak itu, saya tetap bisa melaksanakannya, mudah-mudahan dengan izin Allah juga saya akan tetap bisa melaksanakannya, " kata Noor.
Bagi keluarganya, Noor dikenal sangat taat menjalankan perintah agama. Dia tak pernah bosan mengingatkan keponakan-keponakan nya untuk salat bersama-sama jika azan telah dikumandangkan.
Ketekunan Noor terhadap persoalan agama juga terlihat di Sengatta, Kutai Timur, Kaltim. Dia menyalurkan jiwa sosialnya sebagai seorang guru agama. "Banyak yang berkonsultasi soal agama dengan Noor," kata sang kakak, Hj Siti Robiah.
Noor sangat menginginkan kesembuhan tetapi dia menginginkan cara penyembuhan itu tidak keluar dari akidah agama Islam.
"Saya mendapat ujian penyakit ini karena Allah SWT yang mengizinkannya. Seandainya Allah tidak mengizinkan, saya yakin tidak ada ujian seperti yang saya alami ini. Artinya saya pun sembuh dengan izin Allah," ujar Noor.
Simpati terus berdatangan. Direktur Utama RSU Abdul Wahab Syahranie Samarinda Ajie Syirafuddin, sehari setelah melihat sendiri perut Noor yang mengeluarkan kawat, langsung menyiapkan sebuah kamar khusus agar perempuan berusia 40 tahun itu bisa mendapat perawatan intensif.
Menurut Ajie, melalui perawatan yang intensif, diharapkan Noor bisa terbebas dari jenis penyakit yang diakuinya baru kali ini muncul dalam dunia medis. Tak cuma kamar khusus, Ajie juga siapkan tim khusus. Tim ini terdiri atas enam dokter spesialis dan seorang ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda.
Para dokter yang menjadi anggota tim merupakan dokter terbaik di bidangnya. Ada ahli bedah, ahli bedah tulang, ahli jiwa, ahli laboratorium, ahli rontgen, dan ahli penyakit dalam. "Kita full team, makanya kami kerahkan semua para dokter spesialis terkait untuk penanganan Ibu Noor itu. Bahkan, semua perangkat medis yang dimiliki RSU AW Syahrani akan kami turunkan," kata Ajie.
Terkait keberadaan ulama dalam tim, dia mengatakan, penyakit yang diderita Noor belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan tidak mungkin penyakit itu muncul akibat adanya kekuatan supranatural. Kisah yang dikemukakan Noor atau keluarganya juga mengisyaratkan tidak tertutupnya kemungkinan itu.
Jumat (11/7) pagi, Noor memulai tahap pengobatan. Begitu tiba di rumah sakit, dia langsung masuk ke ruang MSCT Scaning selama 20 menit. Setelah itu, dia masuk ke ruangan sinar X.
"Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak," ujar Ajie.
Sayang, pihak keluarga masih belum mau Noor menjalani rawat inap.
"Kondisi Noor masih labil. Kami khawatir kondisi mentalnya, makanya kami ingin dia di rumah dulu," ucap Siti Robiah. Jumat sore, Noor kembali ke rumah kakaknya di Samarinda.
Bagaimana sikap Noor? "Saya agak tegang. Doakan saya sembuh ya," katanya dengan lirih. Apa sebenarnya penyakit Noor dan bagaimana pula pandangan paranormal? Ikuti terus kisahnya di BPost. (TK)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar