Kamis, 11 November 2010

Manisnya Iman

Sabda Rasulullah SAW.: "Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman (iaitu) Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai daripada selainnya (Allah dan Rasul), dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api". (Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim)..

Iman adalah membenarkan secara putus (jazim) tanpa ragu sedikitpun dengan apa yang datang daripada Rasulullah SAW. yang diikuti dengan ketundukan hati dan ketenteraman jiwa menerima ketentuannya tanpa perasaan degil dan takabbur.

Terkadang-kadang terdapat iman yang jazim pada seseorang dan tidak ada keraguan sedikitpun terhadap kebenaran yang datang daripada Rasulullah SAW. tetapi sayangnya terkadang kadang iman tersebut diikuti oleh rasa sombong dan enggan serta tidak mahu melaksanakan apa yang diyakininya itu. Maka dalam keadaan seumpama ini, dia belum digolongkan sebagai orang yang beriman.

Juga terdapat orang yang memiliki iman yang jazim tanpa sedikitpun ada perasaan ragu, malahan dia tidak mempunyai sifat degil dan takabbur terhadap apa diyakininya. Tetapi sayangnya kita lihat orang tersebut tenggelam kedalam dunia kelalaian, dia tidak pandai menilai kadar iman sebagaimana semestinya, dia lalai untuk menunaikan kewajiban mensyukuri nikmat tersebut. Manusia seperti inilah yang dikatakan orang yang beriman atau " mukmin " yanq belum mendapatkan " kemanisan iman ".

Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman.

Hadis ini mengandunqi asas-asas utama bagi semua pintu kebaikan. Kemanisan iman adalah sesuatu yang dapat dirasakan oleh mukmin yang tenteram jiwanya terhadap nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dengan kemanisan iman seseorang dapat menghadapi hidup dengan penuh ceria. Keimanannya dapat membimbing dirinya untuk menghadapi kehidupan ini walau bagaimanapun keadaan yang menimpanya. Jika sedang ditimpa kesusahan dia boleh bersabar, dan dia dapat merasakan nikmat kesabaran. Dan jika dia mendapat nikmat kesenangan maka ia pandai bersyukur, dan dia dapat merasakan nikmat kesyukuran. Dia meyakini bahawa segala yang menimpanya apakah baik atau buruk adalah telah ditentukan oleh Allah sejak azali. Oleh itu ia dengan jiwa tenang dapat menghadapi semua keadaan dengan rasa redha.

Kalaulah begitu besar nikmat yang dia dapat rasakan ketika di dunia lantaran kemanisan iman yang dimilikinya, sudah pasti lebih besar lagi nikmat yang bakal dia terima di sisi Allah kelak di akhirat.

1. Adalah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya.

Cinta ialah kecenderongan jiwa seseorang kepada sesuatu yang boleh memberinya kelazatan, manfaat ataupun kerana sesuatu itu sesuai dengan fitrah (tabiat) nya. Ada beberapa sebab yang boleh menimbulkan rasa cinta seseorang. Menurut Imam Al Ghazali bahawa ada 5 sebab yang mendorong perasaan cinta seseorang:

1. Cinta manusia kepada dirinya, kewujudannya, keberkekalan dan kesempurnaannya.

2. Cinta manusia kepada orang yang berbuat ihsan kepadanya dan orang yang boleh mendatangkan manfaat kepadanya.

3. Cinta manusia kepada orang yang suka berbuat ihsan semata-mata kerana ihsannya. Walaupun dia sendiri tidak berhajat kepada ihsan orang tersebut.

4. Cinta manusia kepada kecantikan dan keindahan. Keindahan yang memikat ada yang hissy (fisical) seperti keindahan warna warni bunga dan binatang, dan ada pula yang maknawy (abstrak) seperti akhlak yang luhur dan sifat mulia dari seseorang umpamanya: berilmu, cerdik, berani, adil, sabar, cekal dan lain lain.

5. Cinta manusia kepada seseorang disebabkan kerana orang yang dicintainya itu memiliki persamaan sifat dengannya, walaupun semua sebab terdahulu atau sebahagiannya tidak wujud pada orang tersebut. Ini sesuai dengan sabda Nabi SAW.: Roh-roh adalah tentera tentera yang dipersenjatakan, maka apa yang sesuai dengannya dia akan mesra dan apa yang bercanggah dengannya dia akan berbeza.

Dan jika kita amat amati sebab sebab cinta diatas dengan cermat nescaya kita dapati kesemua sebab itu mewajibkan orang beriman yang benar-benar mengenali Tuhannya untuk mencintai Allah dengan kadar cinta yang tidak ada tolok bandingannya.

Buah atau kesan cinta seseorang kepada Allah akan menimbulkan ketaatannya kepada Allah yakni melaksanakan suruhan Nya dan menjauhi laranqan-Nya. Tetapi perlu diingat bahawa terdapat perbezaan antara taat kerana cinta (mahabbah) dengan taat kerana mengharap dan takut (rakhbah dan Rahbah).

Keutamaan BerSabar

Allah Ta’ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah) dari sabar. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar)”. (QS. As-Sajadah : 24).
“Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf : 137).
“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).

Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta’ala mengaitkan puasa itu bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.
“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46).

“Ya! Kalau kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya, Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang akan membinasakan”. (QS. Ali ‘Imran : 125).

Dan penelitian semua ayat-ayat tentang kedudukan sabar itu akan panjang bila diteruskan.
Adapun hadits-hadits yang menyangkut dengan sabar, maka di antara lain, Nabi s.a.w. bersabda : “Sabar itu separuh iman”, sebagaimana nanti akan diterangkan caranya sabar itu separuh iman. Adapun hadits-hadits yang lain di antaranya:

“Dari yang sekurang-kurangnya diberikan kepada kamu, ialah: keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberikan keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam dan puasa siang.

Dan engkau bersabar di atas apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap orang daripada kamu, kepadaku, dengan seperti amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu sebagian kamu menetang sebagian yang lain. Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit (para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh kesempurnaan pahalanya”.

Kemudian Nabi s.a.w. membaca firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya” (An-Nahl:96).
Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w ditanyakan tentang iman, maka Beliau menjawab: “Sabar dan suka memaafkan”.

Dikatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.:
“Berakhlaklah dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Maha Sabar.”

Pada hadits yang diriwayatkan ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya:

“Apakah kamu ini semua orang beriman?”.

Semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.: “Ya, wahai Rasulullah!”.
Nabi s.a.w. lalu bertanya: “Apakah tandanya keimanan kamu itu?”

Mereka menjawab: “Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah Ta’ala)”.
Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Demi Tuhan pemilik Ka’bah! Benar kamu itu orang beriman!”.

Nabi s.a.w. bersabda:

“Pada kesabaran atas yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan”.
Isa Al-Masih a.s. berkata:

“Engkau sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa yang tiada engkau sukai”.

Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat pada surat khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., yang bunyinya di antara lain:

“Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik. Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan sabar”.

Ali r.a. berkata pula:
“Sabar itu dari iman, adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai kesabaran”.

Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila membaca ayat: “Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)” (QS. Shad : 44), lalu beliau menangis dan berkata: “Alangkah menakjubkan! Ia yang memberi dan Ia yang memujinya.”